Aduh, lupa gak bawa kamera

Kemarin mendadak ditugaskan mengikuti Workshop JIP (Jaringan Inovasi Pendidikan) di Semarang, tepatnya di LPMP Jateng. Ok, siap. Setelah menerima sppd/surat tugas, saya langsung meluncur pulang untuk berkemas. Setelah persiapan dirasa cukup langsung putar gas, naik sepeda motor juga, mudah-mudahan aman dan lancar di jalan sampai di LPMP dengan selamat.

Awalnya rekan saya (Tri Widodo) yang ditugaskan, tapi ditengah perjalanan dia mengalami kecelakaan di Sayung Demak. Ceritanya kecelakaan tabrak lari sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang tangan kanan. Sabar dan tabah teman, mudah-mudahan cepat sembuh.

Sampai di LPMP kira-kira pukul 13.00. Selesai registrasi dan isirahat sebentar, langsung mengikuti sesi materi. Aduh, lupa gak bawa kamera. Kamera yang saya angan-angankan akan saya bawa akhirnya lupa tak terbawa saat berangkat. Dalam event seperti ini, kamera sangat penting sebagai sarana dokumentasi. Sebagai pelengkap lapora, dan bisa dimanfaatkan untuk mengisi blog sekolah maupun blog pribadi. Mungkin lain kali harus checklist peralatan yang harus dibawa, biar kagak lupa lagi….!

Advertisements

Memilih proyektor

Tipe proyektor

LCD standar – Proyektor LCD (liquid crystal display) ini menggunakan satu panel kaca LCD yang mengatur tiga warna utama. Tipe proyektor jenis ini menurun di pasaran sementara proyektor LCD tipe polysilicon dan proyektor LCD dengan teknologi DLP (proyektor DLP) makin populer.

LCD Polysilicon – Proyektor LCD Polysilicon mengatur warna melalui tiga panel sehingga mempunyai kualitas lebih tinggi dari pada proyektor LCD standar. Hasil proyeksi melalui tiga panel ini memungkinkan proyektor ini menghasilkan saturasi warna yang lebih baik dari pada proyektor LCD standar.

DLP – Proyektor DLP (digital light processing) menggunakan chip dengan ribuan cermin berukuran mikro yang memodulasikan cahaya dari lampu dan memproyeksikannya melalui lensa. Sistem DLP tersusun atas lebih dari 400.000 cermin yang sangat kecil, yang me-modulasikan cahaya dari lampu dan memproyeksikan sinyal cahaya yang termodulasi keluar melalui lensa ke layar. Teknologi ini disebut juga DMD (Digital Mirror Device). Proyektor DLP adalah salah satu tipe proyektor yang banyak beredar di pasaran.

DLP versus LCD
Read more of this post

Forum Diskusi Ahli Bahas Penetrasi TIK di Indonesia

JAKARTA- Sekitar 60 ahli teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) akan membahas penetrasi TIK di Indonesia dalam suatu forum ahli yang difasilitasi The Habibie Center dan akan berlangsung di Jakarta pada 6 Desember mendatang.

Forum diskusi ahli tersebut akan membicarakan antara lain mengenai target yang ditetapkan Depkominfo untuk membangun “ekosistem broadband” agar 50 juta penduduk Indonesia dapat terhubung dengan internet pada 2012.

“Saat ini, hanya 20 juta atau 10 persen penduduk Indonesia yang terhubung dengan internet. Angka ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan 66,2 persen di Singapura atau di negara Asia lain seperti Malaysia, Brunei dan Vietnam yang tingkat penetrasinya lebih dari 40 persen,” papar Ketua Institut Demokratisasi dan Sosialisasi Teknologi The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie di Jakarta, Rabu (28/11).

Forum diskusi ahli yang bertajuk “Demokrasi 2.0: Menuju Kewargaan yang Partisipasif” itu akan membahas sembilan pertanyaan dasar untuk mencapai target penetrasi penggunaan internet antara lain platform teknologi yang optimal seperti apakah yang dibutuhkan. Read more of this post

Ratusan Orang Terjangkit Chikungunya

JEPARA- Ratusan orang dari beberapa kecamatan di Kabupaten Jepara terjangkit penyakit chikungunya, yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes acbolpictus. Penyakit mulai melanda warga sejak beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, ribuan orang terjangkit demam berdarah dengue (DBD), dalam tahun ini telah melanda 1.800 korban lebih dan puluhan meninggal dunia. DKK sampai sudah mengategorikan termasuk kejadian luar biasa (KLB). Walau penyakit chikungunya tersebut tidak dikategorikan mematikan, namun jika korban mengalami komplikasi, akibatnya akan lain. Read more of this post

Oleh-Oleh Khas Haji

JEPARA-Berdagang barang yang laku hanya musiman, tak menjadi masalah bagi Sinta. Pemilik toko yang menjual aneka oleh-oleh khas orang pulang dari beribadah haji itu tetap optimis usahanya berjalan dengan baik.

Alasannya, jamaah haji dari Jepara cukup tinggi. Tempat usahanya juga strategis. Yaitu di kompleks Shopping Centre Jepara (SCJ).

“Jamaah haji asal Jepara cukup banyak. Jadi kami tidak khawatir tidak laku meski harus menyetok oleh-oleh ini sampai satu tahun. Seperti sajadah, tasbih, minyak wangi, dll tidak akan basi,” ujarnya. Sinta mengaku, barang dagangan khas ini didatangkan dari tanah suci langsung. Jadi jamaah haji tidak perlu khawatir.

Ukiran Jepara Dinilai Unggul

JEPARA- Meski mengandalkan keterampilan manual, bukan berarti mebel Jepara tidak mempunyai keunggulan. Nilai tambahnya justru karena masih banyaknya sentuhan tangan tersebut. Khususnya pada seni ukir yang terpahat di produk mebel kayu.

Pendapat ini disampaikan langsung oleh Jerry Tan. Pelaku usaha mebel terkemuka Singapura ini mengatakan, hingga saat ini produk mebel jenis indoor produk Jepara masih tetap mempunyai keunggulan.

Indoor furniture from Jepara, it’s good than the other,” jelas Tan dalam bahasa Inggris, Rabu malam (21/11) di sela-sela road show dan presentasi pameran International Furniture Fair Singapore (IFFS) di Hotel Maribu.
Read more of this post

Masjid agung Jepara tempo doeloe

The Sumatran beachheads of Islam had commercial ties with other parts of the region, but they were not closely involved in events outside their immediate neighbourhoods. In Java, on the other hand, where the distance between the Muslim coastal fringe and the interior was negligible, a tense situation developed. The Muslims did not overthrow the kingdom of Majapahit (see above). Majapahit, weakened by feuds within its royal family and increasingly denied the benefits of overseas commerce, merely withered away and disappeared in the early 16th century. The passing of its hegemony left a power vacuum in Java that set in train a conflict between Islam and the aristocratic traditions of the interior.

In later centuries, the Javanese inland elite chose to bridge over the events of the 15th and 16th centuries and see a continuity between Majapahit and Mataram, the great kingdom of 17th-century Java. This vision of the past, however, conceals a very troubled period in Javanese history. The militant mood of coastal Islam may be seen in the enforced imposition of the new faith on western Java and also on Palembang in southern Sumatra. Similarly, the impact of Islam may be gauged by the fury of the 17th-century Mataram kings against the princes and Muslim notables of the northern coast.

The conflict seems to have begun with the determination of the Demak coastal rulers in the first half of the 16th century to rule over a great Javanese kingdom. The coastal princes, especially as their harbours grew richer and their dynasties older and more confident, came to see themselves not only as Muslim leaders but as Javanese princes. Their pretensions are reflected in Tomé Pires’ statement that they cultivated the “knightly” habits of the ancient aristocracy. But when Demak sought to expand inland, bringing with it Islam, its armies were halted in the mid-16th century by Pajang. Some years later, Mataram, another principality in central Java, came to the fore. The climax of the conflict was in the first half of the 17th century, when Agung, ruler of Mataram, took the offensive and destroyed the coastal states and with them the basis of Javanese overseas trade.

Jepara Mosque
Mosque of Jepara with typical Hindu-Javanese meru-roof.

Read more of this post